Sering mencuci tangan berkali-kali dan tetap merasa masih kotor? Tiap malam mengecek kunci pintu berkali-kali dan tetap merasa tidak aman? Atau mengecek kompor terus-menerus padahal Anda telah mematikan apinya? Jangan-jangan Anda terkena Obsessive Compulsive Disorder (OCD) !
Pada The Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, Fourth Edition, Text Revision (DSM-IV-TR), OCD digolongkan dalam gangguan kecemasan. Pada pasien terdapat gejala obsesif maupun kompulsif.
Ada 4 kriteria obsesif :
- Pikiran, impuls, atau gambar yang menetap dan berulang yang terjadi beberapa kali, mengganggu, dan tidak sesuai sehingga menyebabkan kecemasan dan stres. Penderitanya menyadari akan keanehan mereka ini namun sulit untuk menceritakan ke orang lain karena pikiran ini sulit dimengerti.
- Penderita merasakan khawatir yang berlebihan terhadap masalah dalam hidup mereka.
- Penderita berusaha menekan atau mengabaikan pikiran, impuls, atau gambar tersebut atau berusaha menetralkannya dengan memikirkan atau melakukan hal lain.
- Penderita menyadari bahwa gangguan pikiran mereka ini adalah hasil dari pemikiran mereka sendiri.
Ada 2 kriteria kompulsif :
- Penderita sering melakukan suatu pekerjaan berulang-ulang (contohnya: mencuci tangan, memesan sesuatu, mengecek) atau tindakan mental (contohnya: berdoa, berhitung, mengulangi kata-kata dalam hati) sebagai respon terhadap obsesi atau terhadap peraturan yang harus dipatuhi.
- Perilaku/ritual khusus ini bertujuan untuk mencegah atau mengurangi stress atau mencegah terjadinya suatu situasi yang menakutkan, misalnya kematian atau kecelakaan. Akan tetapi, perilaku mereka ini secara realistis tidak berhubungan dengan tujuan yang ingin mereka capai.
Penyebab OCD belum diketahui. Dari penelitian didapatkan kemungkinan bahwa OCD terjadi akibat abnormal neurotransmitter serotonin pada otak. OCD dapat diturunkan (genetik). Benerapa laporan menyebutkan bahwa OCD terjadi sebagai manifestasi dari gangguan pada otak seperti trauma (kecelakaan) atau keracunan karbon monoksida. Stres dapat memperparah OCD, namun stress bukan penyebab OCD.
Usia rata-rata penderita adalah antara 22-36 tahun. Hanya 15% yang muncul pada usia di atas 35 tahun. Pria biasanya terkena OCD pada usia yang lebih muda, namun biasanya wanita mengejar dan lebih dari 50% penderita OCD dewasa adalah wanita.
Seringnya pasien OCD malah memeriksakan diri ke dokter, bukan ke psikiater. Pada satu studi, 20% pasien yang datang ke klinik kulit adalah pasien OCD, sedangkan hanya 3% yang berhasil didiagnosa. OCD biasanya salah didiagnosa dan salah diterapi. Banyak penyedia pelayanan kesehatan yang tidak familiar dengan gejala OCD dan tidak dilatih untuk memberikan terapinya. Beberapa pasien tidak mempunyai akses untuk mendapatkan terapi. Padahal diagnosis yang cepat dan terapi yang tepat dapat membantu pasien terhindar dari perasaan menderita akibat OCD dan mengurangi risiko terkena masalah, seperti depresi, kesulitan dalam pernikahan, dan masalah yang berkaitan dengan pekerjaan.
Diagnosis OCD dibuat berdasarkan gejala klinis. Tidak seperti pasien psikotik, pasien dengan OCD biasanya menyadari bahwa perilaku mereka berlebihan dan tidak logis. Namun ada juga yang tidak menyadarinya dan berpikir bahwa yang mereka lakukan adalah tindakan yang benar. Tiga pertanyaan ini dapat membantu dalam menegakkan diagnosa :
- “Apakah Anda terus mempunyai pikiran yang membuat Anda cemas dan Anda tidak dapat mengabaikannya sekeras apapun Anda berusaha?” ,
- “Apakah Anda sering mencuci tangan berkali-kali atau sangat menjaga kebersihan?” ,
- “Apakah Anda sering mengecek sesuatu dengan berlebihan?”.
Jawaban “ya” untuk salah satu dari pertanyaan berikut memperkuat diagnosis OCD.
OCD adalah kelainan yang kronis. Dengan pengobatan efektif, gejala OCD dapat berkurang, namun beberapa gejala menetap. Terapi untuk pasien OCD adalah terapi perilaku, terapi kognitif, dan pengobatan spesifik. Pada sebagian besar pasien, kombinasi dari ketiga terapi ini memberikan hasil yang efektif. Obat yang digunakan adalah golongan serotonin-reuptake inhibitors. Jika pengobatan gagal, maka dapat diberikan obat tambahan dan pengobatan alternatif. Bedah saraf adalah pilihan terakhir.
Jika OCD tidak diterapi dengan baik, sebagian besar pasien akan mengalami disabilitas/gangguan dalam aktivitas sehari-hari karena kebiasaannya tersebut. Dengan terapi yang efektif, OCD jarang kambuh. Dukungan dari anggota keluarga juga diperlukan untuk membantu penyembuhan pasien.
Sumber:
Jenike, MA. Obsessive–Compulsive Disorder. Diunduh dari : http://content.nejm.org/cgi/content/full/350/3/259





