Munculnya berbagai maskapai penerbangan yang bertarif murah saat ini menyebabkan semakin banyaknya Sindrom kelas Ekonomi alias Deep Vein Thrombosis (DVT) atau yang dalam bahasa Indonesia disebut trombosis vena dalam. Keadaan ini dapat menyebabkan penderita mengalami kesulitan bernafas, stroke, bahkan kematian. Untuk mengatasinya, dibutuhkan relaksasi sepanjang perjalanan dalam pesawat.

Trombosis vena dalam merupakan salah satu komplikasi dari jet lag yang paling berbahaya. Penumpang pesawat, khususnya kelas ekonomi sering harus terpaksa duduk dalam tempat yang sempit untuk jangka waktu lama (penerbangan antar benua atau lebih dari 6jam) sambil menekuk kaki dan kesulitan bergerak. Oleh karena itu, sindroma ini sering disebut sebagai Sindroma Kelas Ekonomi.

Trombosis adalah bekuan darah yang terbentuk dalam pembuluh darah. Bekuan darah yang disebut trombus ini dapat terbentuk di vena, arteri, jantung, atau mikrosirkulasi dan bisa menyumbat di berbagai tempat atau menjadi emboli yang dapat menjalar ke berbagai tempat lain. Trombus lepas yang disebut emboli bisa menyumbat pembuluh darah di otak (menyebabkan stroke), ke paru (menyebabkan kematian), atau ke bagian tubuh lainnya. Trombus vena terutama terbentuk di daerah yang statis, seperti di tungkai bagian bawah (betis, paha). Gejala klasik trombosis vena dalam adalah pembengkakan salah satu tungkai, kemerahan, rasa hangat, rasa nyeri, dapat terabanya pembuluh darah bagian luar, dan nyeri di belakang lutut dan betis saat punggung kaki ditekuk.

Beberapa tips peregangan selama penerbangan yang dapat dilakukan, diantaranya:
- Pastikan tempat duduk tegak dan jaga jarak dengan penumpang lain, bernafaslah secara biasa dan ulangi kegiatan ini setiap 2 jam.
- Leher: Gerakkan kepala Anda ke arah bahu kanan dan tekuk beberapa saat lamanya, kemudian lakukan langkah yang sama pada bahu kiri. Letakkan dagu Anda ke bagian dada. Ulangi gerakan ini selama 3 kali.
- Bahu: Naikkan bahu Anda selama beberapa saat lalu kembalikan ke posisi semula. Ulangi gerakan ini sebanyak 5 kali.
- Lengan: Julurkan kedua lengan ke depan dada, lalu tekuk siku Anda dan dekatkan lengan perlahan-lahan ke arah dada. Ulangi gerakan ini sebanyak 5 kali.
- Tangan: Genggam sandaran tangan di kursi Anda, pertahankan selama 5 hitungan, lalu lepaskan genggaman itu. Ulangi gerakan ini sebanyak 10 kali.
- Kaki: Letakkan telapak kaki di atas lantai, kemudian angkat jari-jari kaki Anda setinggi mungkin dengan telapak kaki bagian belakang tetap menyentuh lantai. Ulangi gerakan ini sebanyak 5 kali.
- Betis: Awali dengan telapak kaki Anda menyentuh lantai, kemudian perlahan naikkan lutut Anda ke arah dada sedekat yang Anda bisa. Ulangi gerakan ini sebanyak 3 kali.
- Perut: Bermula dari posisi tegak, tekuk badan Anda semaksimal mungkin dengan tangan memegang pergelangan kaki (hati-hati dengan punggung kursi di depan Anda!). Kembali ke posisi tegak secara perlahan. Lalu silangkan kedua tangan Anda di depan dada dan goyangkan badan ke kanan dan ke kiri. Ulangi gerakan ini sebanyak 3 kali.

Ada juga istilah jet lag, yang dapat diartikan sebagai perasaan disorientasi yang dijumpai sebagai hasil penyeberangan zona waktu. Gejalanya antara lain perasaan lelah menyeluruh, susah tidur saat malam hari, kehilangan konsentrasi, sakit kepala, dan lemah lesu secara menyeluruh. Jet lag tidak hanya dialami oleh orang yang melintasi zona waktu berbeda secara cepat, namun juga oleh pekerja yang mengalami pergantian shift ke malam hari.

Keparahan jet lag ditentukan oleh berbagai faktor, antara lain jumlah zona waktu yang dilewati serta arah penerbangan. Terbang ke arah barat lebih mudah diatasi dibandingkan ke arah timur. Jet lag disebabkan oleh gangguan pada jam tubuh yang alami, yaitu sebuah kelompok kecil sel otak yang mengontrol waktu dari fungsi biologis tubuh (irama sirkadian), termasuk waktu makan dan tidur. Jam tubuh didesain untuk ritme teratur untuk waktu siang dan malam sehingga akan berubah saat berada di waktu yang ‘salah’ pada zona waktu yang berbeda. Gejala jet lag sering bertahan hingga beberapa hari sampai tubuh mampu beradaptasi dengan zona waktu yang baru. Dengan mengurangi paparan sinar terang pada saat jam tidur dapat mengurangi gejala jet lag.

Sementara alkohol dapat meningkatkan risiko DVT, minuman kopi atau teh bisa merangsang susunan saraf pusat. Salah satu referensi menyebutkan adanya hubungan antara waktu minum kopi atau teh dengan arah penerbangan. Bila diminum pada malam hari, kopi atau teh dapat membantu pemulihan dari jet lag setelah penerbangan ke arah timur. Sedangkan setelah penerbangan ke arah barat, lebih baik minum kopi atau teh saat siang hari. Namun, akhirnya air putih tetaplah menjadi yang terbaik untuk banyak diminum selama penerbangan karena dapat mencegah dehidrasi.

Referensi:
Reilly, T. (1998). Travel: Physiology, jet-lag, strategies. In: Encyclopedia of Sports Medicine and Science, T.D.Fahey (Editor)

Sudoyo, Aru W; Setiyohadi, Bambang; Alwi, Sidrus; Simadibrata, Marcellus; Setiati, Siti (Editor). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Edisi IV. Jakarta: Pusat Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2006

Baker, Guy. Healthy Air Travel. Singapore Airlines
0