Baiklah, saat ini kita akan membahas beberapa gangguan mata yang menyebabkan mata merah.
1. Subconjunctival Hemorrhage
Disebabkan oleh rupturnya pembuluh darah kecil yang menghubungkan jarak antara episklera dan konjungtiva. Mata terlihat merah karena darah masuk ke dalam jarak yang ada tersebut. Umumnya tanda terpenting dari gangguan ini adalah adanya gangguan perdarahan.
Gangguan ini tidak mempengaruhi kemampuan visual, tidak ada nyeri, serta tidak memerlukan penanganan. Yang perlu dilakukan adalah evaluasi terhadap faktor yang berperan pada gangguan ini.
2. Blepharitis
Disebabkan oleh peradangan pada bagian kelopak mata. Terlihat berminyak dan ada luka-luka yang membentuk bisul melekat pada bagian alis mata. Mata terlihat kemerah-merahan pada bagian sklera (sklera berwarna pink).
Penanganan dilakukan dengan kompres air hangat, menjaga kelopak mata untuk tetap higienis, dan antibiotika topikal seperti eritromisin. Untuk mengatasi gejalanya dipakai NSAID (Non Steroidal Anti Inflammatory Drugs). Jika blepharitis semakin parah atau terjadi chronic blepharitis diberikan antibiotika sistemik (biasanya tetrasiklin).
3. Conjunctivitis
Disebabkan oleh pembuluh darah konjungtiva superfisial yang mengalami dilatasi sehingga terjadi hiperemia dan edema pada konjungtiva. Ini merupakan gangguan yang paling sering menyebabkan kemerahan pada mata. Nyerinya terasa ringan dan kemampuan visual hanya sedikit berkurang. Penyebabnya dapat berupa virus, bakteri, dan jamur. Gangguan ini dapat menyebabkan mata berair, terasa seperti ada benda asing dalam mata, dan fotofobia.
Biasanya penanganan dilakukan dengan pemberian antibiotika topikal okular spektrum luas, seperti sulfasetamid 10%, polymixin-bacitracin-neomycin, atau kombinasi dari trimetoprim-polimiksin.
4. Allergic Conjunctivitis
Disebabkan oleh alergi pada bagian konjungtiva. Kondisi ini secara ekstrim sering terjadi dan sering tertukar diagnosisnya dengan infectious conjunctivitis.
Penanganannya dilakukan dengan kompres dingin, vasokonstriksi topikal, antihistamin, dan mast-cell stabilizers seperti cromolyn sodium. Glukokortikoid topikal juga bisa digunakan, tetapi pada pemakaian jangka panjang dapat menyebabkan komplikasi seperti glaukoma, katarak, dan infeksi sekunder. NSAID topikal seperti ketorolac tromethamine adalah alternatif yang lebih baik dibandingkan glukokortikoid topikal.
5. Keratitis
Disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu: mata kering, pemakaian obat topikal, viral conjunctivitis, terpapar sinar ultraviolet, penggunaan contact lenses, blepharitis, dan abnormalitas kelopak mata. Paling sering adalah penggunaan contact lenses dalam infeksi kornea. Penanganan paling baik adalah dengan antibiotika topikal.
6. Anterior Uveitis
Disebabkan oleh peradangan sel di aqueous humor atau pengendapan di sepanjang endotel kornea. Biasanya dialami oleh orang muda atau pada usia pertengahan. Gejalanya adalah nyeri, fotopobia, dan pandangan yang kurang jelas. Gangguan ini dapat menyebabkan glaukoma, abnormalitas pupil, katarak, dan disfungsi makular. Penanganannya menggunakan glukokortikoid topikal.
7. Acute Angle-Closure Glaucoma
Disebabkan oleh peningkatan dimensi anterior-posterior dari crystalline lens yang bisa mendorong iris di depannya. Pada gangguan ini pupil tidak bereaksi dengan cahaya, iris terlihat kurang tajam, dan pandangan kabur karena adanya edema. Gejala klasik yang sering terlihat adalah adanya halo di sekitar cahaya. Gangguan ini jarang terjadi sehingga sering salah diagnosis.
Penanganannya adalah dengan asetazolamid oral atau intravena, beta bloker topikal, prostaglandin, alfa-2-adrenergik agonis, dan pilokarpin untuk merangsang miosis. Jika gagal, dapat digunakan laser untuk membuat lubang di iris perifer.
Semua gangguan mata di atas merupakan gangguan mata merah yang paling sering terjadi. Kita dapat melihat bahwa antara satu gangguan dengan gangguan mata lainnya memiliki cara penanganan yang berbeda-beda. Jadi, jika terjadi mata merah sebaiknya periksakan mata Anda terlebih dahulu kepada dokter mata. Jangan langsung memakai obat tetes mata tanpa petunjuk dokter! Mata adalah organ penting. Jangan sia-siakan mata Anda dengan melakukan hal-hal fatal!
Daftar Pustaka:
1) Anthony S. Fauci, et al. 2005. Harrison’s Principle of Internal Medicine 16st Edition. New York: McGraw-Hill Companies.
2) The Red Eye. 2000. Available from the URL: http://content.nejm.org/cgi/reprint/343/5/345.pdf.



Post new comment